Tampilkan postingan dengan label Info Ambalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Ambalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2012

Arti "Logo" Ir.H Juanda & Dewi Sartika


Mungkin banyak yang gak tau apa sih arti dari logo Ambalan Ir.H Juanda & Dewi Sartika yang ber-Pangkalan di SMK BINTEK PWT..
Okeh langsung saja ,,Untuk logo Ambalan Ir.H Juanda  memiliki Makna Kibaran Cita sebagai berikut :

  1. Bentuk Segi lima melambangkan Pancasila
  2. 3 Bintang melambangkan Tri Satya
  3. 10 roda gigi melambangkan Dasa Darma
  4. Padi dan kapas melambangkan Kemakmuran dan Kesejahteraan
  5. Buku melambangkan bahwa pramuka dibawah naungan Dinas Pendidikan
  6. Banyumas 27.2965 melambangkan Gugus Depan Ambalan Ir.H Juanda
  7. Ir.H Juanda Pahlawan Nasional Indonesia
  8. Tunas Kelapa melambangkan satuan terpisah antara Putra dan Putri
  9. Hitam melambangkan Keabadian
  10. Putih melambangkan Kesucian
  11. Kuning melambangkan Kejayaan
  12. Hijau melambangkan Kesuburan
  13. Petir listrik melambangan Kekuatan
  14. Merah melambangkan Keberani
 ini pic untuk Ambalan Ir.H Juanda nya :





Dan untuk Ambalan Dewi Sartika nya adalah sebagai berikut :



  1. Dewi Sartika melambangkan Pahlawan Nasional
  2. Bentuk segilima melambangkan Pancasila
  3. 3 Bintang melambangkan Tri Satya
  4. 10 roda gigi melambangkan Dasa Darma
  5. Padi dan kapas melambangkan Kemakmuran dan Kesejahteraan
  6. Buku melambangkan bahwa pramuka dibawah naungan Dinas Pendidikan
  7. Banyumas 27.3402 melambangkan Gugus Depan Ambalan Dewi Sartika
  8. Tunas kelapa melambangkan satuan terpisah antara Putra dan Putri
  9. Hitam melambangkan Keabadian
  10. Putih melambangkan Kesucian
  11. Kuning melambangkan Kejayaan
  12. Hijau melambangkan Kesuburan
  13. Petir listrik melambangkan Kekuatan
  14. Merah melambangkan Keberanian
  15. Hijau Muda melambangkan Tunas Muda 

picture dari Ambalan Dewi Sartika :





dan mungkin ada yg bertanya tanya ?? apa sih Makna Kibaran Cita yg di pake font bold diatas tadi
Makna Kibaran Cita yaitu adalah  :

Kibaran Cita diambil dari dua kata yaitu kibaran dan cita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kibaran berarti bendera dan cita berarti harapan, sehingga dapat disimpulkan bahwa arti dari Kibaran cita adalah bendera yang menjadi simbol harapan.

jadi Makna Kibaran Cita adalah sebuah simbol atau bendera sebagai lambang dan menjadi simbol harapan 




Jumat, 19 Oktober 2012

Foto Bareng (Part 1)

inilah foto-foto kakak Dewan yang suka narsis







hehehehe asik bgt yahh :)
peace...

Kamis, 18 Oktober 2012

Anggota PTM di Ambalan Ir.H Juanda & Dewi Sartika

Hay semua.........
aku disini mau "perkenall kan" anggota PTM dari Ambalan Ir.H Juanda & Dewi Sartika yg berpangkalan di SMK BINA TEKNOLOGI PWT yg saat ini masih duduk di bangku ruang kelas 3


1. Nama : Tri Selo Novenda
Jabatan : Ketua Osis
Contact us on Facebook : Try Celo N


fotonya yg ditengah




2. Nama : Humam Rosady
Jabatan : Pemangku Adat ( PA )
Contact Us on Facebook : Humam Rosady

hhehe narsis juga yah... :D
selain kelas 3 yg jadi anggota PTM,,kelas 2 dan kelas 1 juga ada.. tapi aku gak punya fotonya mereka jadi.... yah terpaksa gak saya post...hehehe :)

Ambalan Di Pangkalan SMK BINA TEKNOLOGI PURWOKERTO

AMBALAN di sekolah saya "SMK BINA TEKNOLOGI PURWOKERTO" ada dua AMBALAN
untuk yang SATUAN PUTRA nama Ambalannya Ir.H Juanda dan untuk yang SATUAN PUTRI nama untuk Aambalannya yaitu DEWI SARTIKA

ini pic logo Ambalan Ir.H Juanda





dan ini pic untuk Ambalan DEWI SARTIKA






Rabu, 17 Oktober 2012

Profil Ir.H. Juanda


Ir. H. Djuanda lahir di Tasikmalaya pada tanggal 14 Januari 1911. Beliau merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School(HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikannya di HIS dan kemudian beliau pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), dan tamat tahun pada 1924.
Kemudian beliau melanjutkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama Djuanda masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) di Bandung, yang sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB), mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933.
Setelah lulus kuliah beliau memilih mengajar di SMA Muhammadiyah di Jakarta dengan gaji seadanya. Padahal, kala itu dia ditawari menjadi asisten dosen di Technische Hogeschool dengan gaji lebih besar. Setelah empat tahun mengajar di SMA Muhammadiyah Jakarta, pada 1937, Djuanda mengabdi dalam dinas pemerintah di Jawatan Irigasi Jawa Barat. Selain itu, Djuanda juga aktif sebagai anggota Dewan Daerah Jakarta.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, tepatnya pada 28 September 1945, Djuanda memimpin para pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari Jepang. Disusul pengambil-alihan Jawatan Pertambangan, Kotapraja, Keresidenan dan obyek-obyek militer di Gudang Utara Bandung. Kemudian pemerintah RI mengangkat Djuanda sebagai Kepala Jawatan Kereta Api untuk wilayah Jawa dan Madura. Setelah itu, Djuanda diangkat menjabat Menteri Perhubungan. Djuanda pun pernah menjabat Menteri Pengairan, Kemakmuran, Keuangan dan Pertahanan. 
Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.
Sumbangannya yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Pada tanggal 23 Mei 1952 beliau mendapatkan Penghargaan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama lapangan terbang di Surabaya, Jawa Timur yaitu Bandara Djuanda karena jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut sehingga dapat terlaksana.

Profil Dewi Sartika

Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana. Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda , Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula.

Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Cicalengka, sejak kecil memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Dikatakan demikian karena sejak anak-anak ia sudah senang memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh, sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya, ketika itu ia sangat senang berperan sebagai guru. Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Berpikir agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut ilmu pengetahuan, maka ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, ia sudah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan R.A.A.Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, maka pada tahun 1904 dia berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri”. Sekolah tersebut hanya dua kelas sehingga tidak cukup untuk menampung semua aktivitas sekolah. Maka untuk ruangan belajar, ia harus meminjam sebagian ruangan Kepatihan Bandung. Awalnya, muridnya hanya dua puluh orang. Murid-murid yang hanya wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama.

Sekolah Istri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid. Untuk mengatasinya, Sekolah Isteri pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak didirikan, pada tahun 1910, nama Sekolah Istri sedikit diperbarui menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Perubahan bukan cuma pada nama saja, tapi mata pelajaran juga bertambah.

Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya. Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya mewujudkan perjuangannya, baik tenaga maupun pemikiran.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Jangan tanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada negaramu. Kata bijak tersebut sangat tepat menjadi panduan semua bangsa yang hendak menobatkan seseorang sebagai penerima gelar kehormatan ‘pahlawan’ di negaranya.

Terlepas dari bentuk atau cara perjuangannya, seorang pahlawan pasti telah berbuat sesuatu yang heroik untuk bangsanya sesuai kondisi zamannya. Demikian halnya dengan Raden Dewi Sartika. Jika pahlawan lain melakukan perjuangan untuk bangsanya melalui perang frontal seperti angkat senjata, Dewi Sartika memilih perjuangan melalui pendidikan, yakni dengan mendirikan sekolah. Berbagai tantangan, khususnya di bidang pendanaan operasional sekolah yang didirikannya sering dihadapinya. Namun berkat kegigihan dan ketulusan hatinya untuk membangun masyarakat negerinya, sekolah yang didirikannya sebagai sarana pendidikan kaum wanita bisa berdiri terus, bahkan menjadi panutan di daerah lainnya.